Pernik Adjiwae

BERBICARA LEWAT TULISAN
Salah satu sifat yang menonjol pada diriku adalah sifatku yang sangat tertutup. Aku tidak pandai menceritakan sesuatu kepada orang lain, terkadang malah bingung jika aku harus memulai untuk bercerita. Tak banyak hal yang bisa aku ceritakan kepada teman-temanku, semua serba aku tutup-tutupi. Bahkan setelah era sahabatku Yulia, tak ada lagi seseorang yang spesial aku tunjuk sebagai pendengar curahan hatiku. Aku lebih banyak memendam perasaan sedih, senang, emosi hingga sakit hati sekalipun. Namun, aku malah lebih bebas bercerita, bebas mengeksplorasi diri lewat sebuah tulisan (termasuk di blog ini) daripada aku harus bercerita lewat lisan. Entah kenapa terkadang aku selalu bisa membayangkan untaian kata-kata yang bisa mewakili kondisiku sebenarnya, yang sepatutnya segera aku jadikan sebuah tulisan cerita.

PERASAAN SENSITIF
Aku mempunyai sifat yang mudah terharu. Perasaanku mudah sekali tersentuh dengan cerita-cerita yang mengharukan dan bahkan menyedihkan. Hobiku menonton film-film cengeng mungkin yang mempengaruhi kondisi perasaanku sendiri. Bahkan, terkadang aku sampai harus meneteskan air mata jika memang ada cerita yang benar-benar mengharukan. Huh..

MANAJEMEN SAKIT HATI
Pemberian sesuatu dari salah satu orang yang menurutku istimewa harus selalu dijaga dan dirawat, termasuk sakit hati! Karena mungkin itulah pemberian terbaik yang bisa diberikan seseorang kepada kita, meski pemberiannya begitu perih di hati. Itu juga yang aku alami selama ini. Aku selalu mengenang sakit hatiku yang pernah aku alami. Sejauh ini aku sudah merasakan dua kali sakit hati, yakni dari seorang Tita dan Anisa. First Love yang aku alami di bangku SMP dengan Tita berbalas dengan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Kamu bisa bilang sebagai cinta monyet. Tapi menurutku itu adalah momentum pertamaku bermain perasaan hati. Kedua, aku sakit hati dengan keputusan Anisa memutuskan hubungan pacaran kami di bangku SMU, terlebih dia mempercayai sebuah fitnah yang dialamat kepadaku. Kedua sakit hati itu kini telah terkumulatif menjadi satu menjadi sebuah sakit hati. Terkadang di malam-malam tertentu aku sering mengingat sakit hati itu agar satu menit atau bahkan dua menit sakit itu kembali mengalir perih di hatiku sendiri. Dengan cara itulah aku bisa mengingat lagi kedua wanita yang pernah ada di hatiku, meski harus menanggung sakit.

BENCI ROKOK
Salah satu hal yang aku benci di kehidupan sehari-hariku adalah rokok. Aku paling tidak betah jika mesti berhadapan dengan seseorang yang merokok, termasuk bapakku sendiri. Sejak kecil memang aku sudah mengenal dengan yang namanya rokok. Pernah sewaktu SMP aku mencuri satu bungkus rokok dari dagangan toko milik ibuku. Sebungkus rokok itu aku habiskan bersama dengan teman-temanku semasa itu, tentunya dengan cara sembunyi-sembunyi. Agar tidak ketahuan orang tuaku, maka tak lupa sehabis merokok aku mesti menghisap permen agar bau rokok tak lagi menyengat. Pernah aku bertanya kepada ibuku, keisenganku bertanya tentang permintaan ijin agar aku diperbolehkan untuk merokok sama seperti bapak? Gara-gara iseng meminta ijin merokok, aku malah kena marah oleh ibuku. Ibuku memang benar-benar mengawasi anaknya agar tidak mengikuti jejak bapakku sebagai perokok berat. Hingga kini aku dan kakakku anti dengan rokok. Dan bagi aku sendiri, rokok adalah sesuatu yang aku haramkan.

BERWARNA MERAH
Dalam kehidupanku, aku sangat menyukai warna merah. Tak ada alasan khusus mengapa aku menjatuhkan pilihan warna favoritku kepada warna merah tersebut. Tapi kalau boleh mengira-ira kesukaanku dengan warna merah disebabkan sejak kecil aku sudah mengidolakan salah satu tim sepak bola dari Inggris, Manchester United yang selalu dominan dengan warna berani (merah) itu. Lambat laun aku mulai jatuh cinta dengan warna yang menurut khalayak umum disebut dengan warna berani. Warna favorit itu juga yang selalu mempengaruhiku ketika aku akan membeli sebuah barang, dengan harapan warna merah akan menjadi paduan warna yang paling bagus diantara warna lainnya, termasuk pilihan warna membeli baju. Selain warna merah, warna lain yang cenderung aku suka adalah warna putih.

TAK SUKA SUSU
Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, meminum segelas susu merupakan kewajiban yang mesti aku kerjakan sebelum berangkat ke sekolah. Beranjak di bangku SMP, perlahan tapi pasti aku mulai meninggalkan aktifitas minum susu tersebut. Hingga saat ini aku yang telah tumbuh menjadi orang yang dewasa tak lagi anak kecil tak lagi remaja dan tak lagi disebut ABG, aku tak lagi menyukai dengan yang namanya susu. Makanya jangan pernah menawarkan segelas susu kepadaku, entah itu susu putih maupun susu cokelat sekalipun. Namun, ada sesuatu yang masih mau untuk aku minum, yakni Yakult dan susu murni nasional rasa jeruk yang sering diperdagangkan di jalanan. Selain susu, minuman yang tidak aku suka yakni kopi dan es soda gembira. Cukup air putih dingin ataupun teh panas sudah membuatku lega.

TAK LANCAR BERSIUL
Ketika aku duduk di kelas 3 SMU, aku ketahuan oleh teman sebangku bahwa aku nggak bisa bersiul waktu itu. Selanjutnya menyebarlah berita itu di kelas 3 IPA 5 SMU Muh 1 waktu itu. Hingga usiaku menginjak 19 tahun, aku memang tidak pernah bersiul karena memang diketahui bahwa aku tidak bisa bersiul. Sekedar guyonan teman-temanku waktu itu, bahwa cowok yang tidak bisa bersiul akan sulit dalam mendapatkan pacar. Aku merasa mereka sudah mampu untuk berpikir kritis dengan menanggapi apa yang telah terjadi di lingkungan sekitarnya meski aku sendiri yang menjadi korbannya saat itu. Di usia sekarang, bersiul masih saja menjadi kendala bagiku. Aku tidak bisa lancar bersiul untuk menyanyikan satu buah lagu sekalipun. Yang dapat aku lakukan adalah memoncongkan bibirku sembari meniup berharap ada bunyi yang dapat didengar, meski hanya sebentar.

PENIKMAT SINETRON
Mungkin terdengar aneh jika aku seorang cowok yang hobi mengikuti alur cerita sinetron episode demi episode. Sejak kecil aku sudah mulai mengikuti alur cerita sinetron Tersanjung, dimulai dari Tersanjung 1 hingga akhirnya Tersanjung 6 yang kemudian ceritanya entah berantah tak berlanjut lagi. Di bangku SMU aku mulai gandrung dengan sinetron anak muda yang menjadi fenomenal saat itu, Meteor Garden! Kisah drama percintaan antara San Chai (Barbie Hsu) dan Tao Ming Tse (Jerry Yan) aku ikuti dari awal hingga benar-benar tuntas. Kini, aku mulai suka mengikuti drama sinetron Cinta Fitri yang tayang di layar kaca SCTV.

PROF. DR. HM. AMIEN RAIS, MA. TOKOH IDOLA
Siapa yang tidak tahu dengan bapak Amien Rais? Hampir semua penduduk di Indonesia mengetahuinya. Sejak aku masih duduk di bangku SMP aku sudah mulai mengidolakan tokoh reformasi tersebut. Banyak sekali informasi-informasi yang aku temui mengenai sosok Amien Rais. Saking ngefans-nya dengan bapak satu ini, semasa SMP aku pernah berkirim surat kepadanya. Namun suratku dibalas oleh putrinya, Hanum Salsabiela Rais sembari mengirimkan dua buah foto bapak Amien Rais dan meninggalkan nomor telepon rumahnya. Bapak Amien Rais sendiri waktu itu sedang menunaikan ibadah haji. Hingga kini balasan surat yang telah berumur lebih dari 10 tahun itu masih terawat baik olehku. Puncak keidolaanku terjadi waktu aku duduk di bangku kuliah. Kuliah di Jogja membuat aku sering sekedar lewat di depan rumah pak Amien. Masa-masa kampanye Presiden tahun 2004 lalu, aku juga aktif datang ke UGM untuk mendengarkan orasi politiknya, entah itu dari pak Amien sendiri maupun dari salah satu tim suksesnya kala itu. Ketika bapak Amien Rais merayakan hari ulang tahunnya di rumahnya Pandean Sari, secara percaya diri aku datang sendirian ke rumah bertingkat itu untuk sekedar mengucapkan selamat dan memberikan sebuah bingkisan sederhana berisi foto berpigura. Lantas apa yang membuatku kagum dengan kharisma bapak Amien Rais? Jawabannya cukup sederhana yakni sisi hidupnya. Aku mengaguminya bukan karena nama besar, gaya politik maupun kevokalannya terhadap bangsa Indonesia. Aku lebih suka menyelusuri cerita-cerita masa kecil beliau hingga kini sudah menjadi anak bangsa yang berhasil. Cerita-cerita Amien muda begitu membuatku terenyuh dan kagum. Aktifitas keagamaannya juga begitu kental terasa di tengah-tengah didikan Muhammadiyah. Terkadang aku harus merinding jika harus membaca lagi arsip-arsip tentang Amien Rais yang aku miliki.

LAPTOP & HANDPHONE
Ada dua barang yang mesti harus selalu ada di sisiku, yakni handphone dan laptop! Handphone harus selalu siap dalam jangkauan tanganku, bukan untuk segera menelepon atau bahkan ber-SMS-an, melainkan untuk mengakses internet. Setiap waktu luang selalu aku gunakan untuk menjelajah ke dunia maya melalui handphone. Bahkan pulsa yang terisi di nomor Hp ku lebih banyak habis aku gunakan untuk biaya akses internet dibanding untuk SMS ataupun telepon. Dalam sehari saja, mungkin hanya 3 SMS yang bisa aku kirimkan. Dan dalam seminggu mungkin hanya sekali saja aku telepon, itu pun tak lebih dari 90 detik! Super irit memang, tapi setiap empat hari sekali aku mesti mengisi pulsa minimal 10 ribu perak. Kegandrunganku dengan teknologi internet memang sudah sangat akut dan tak bisa terpisahkan. Karena dengan cara itulah aku bisa secara cepat meng-updete informasi terbaru, termasuk aktifitasku sebagai blogger di blog ini. Laptop mesti harus selalu stand by dalam hidupku. Dalam sehari saja minimal sekali aku mesti menyalakan laptop meski sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus aku lakukan dengan komputer tipis tersebut. Setiap malam menjadi pekerjaanku bekerja dengan laptop, mengetik naskah, dengar mp3, edit foto, desain hingga bermain animasi di Macromedia Flash. Handphone dan laptop seakan sudah menjadi partner dalam hidupku yang susah untuk dipisahkan.

TERTIDUR DENGAN KIPAS ANGIN
Satu kebiasaanku ketika hendak tidur malam adalah selalu menyalakan kipas angin. Kebiasaan tersebut sudah mulai aku lakukan sejak aku kuliah di Jogja dan harus menempati sebuah kamar kost. Meski sekarang ini bukan anak kost lagi, tapi kebiasaanku tidur dengan kipas angin menyala terbawa hingga ke kamar tidurku di rumah. Aku sendiri akan kesulitan tidur jika kipas angin tidak menyala. Sebelum tidur aku selalu membuat udara di sekitar kamar tampak sedikit dingin dari biasanya. Kebiasaanku memakai kipas angin yang menyala berakibat aku selalu nampak kedinginan ketika pagi hari tiba. Disaat seperti itu, memakai selimut dan bermalas-malasan bangun tidur menjadi aktifitasku di pagi hari. Selain memakai kipas angin yang menyala, yang berhubungan dengan cara tidur malamku yakni keenggananku memakai selimut ketika akan memulai tidur.


KRITERIA CALON PENDAMPING

Hampir tak ada yang tahu selera dari kriteria calon istriku (bukan pacar!) nantinya. Ya, aku memang punya kriteria tersendiri masalah partner hidupku nanti. Namun, aku juga masih sadar bahwa semua ini hanyalah sebuah rencana dariku, keputusan nantinya siapa jodohku tetap aku kembalikan kepada-Nya. Berikut ini sepuluh kriteria yang aku inginkan untuk menjadi calon pendamping hidupku.

1. Wanita muslim, benar-benar harus seagama (Islam).
2. Feminim, benar-benar berkarakter seorang wanita!
3. Mempunyai wajah menarik, lebih diutamakan berwajah manis (bukan cantik).
4. Dewasa, tidak manja dan mau hidup dalam kesederhanaan.
5. Berpendirian, percaya diri dan tidak suka merepotkan orang lain.
6. Mempunyai sifat kesederhanaan, tidak bermewah-mewahan dan tidak suka berfoya-foya.
7. Mempunyai latar belakang dari keluarga sederhana.
8. Suka dan mau mengenakan rok panjang, itu penting!
9. Harus menyukai anak-anak.
10. Mempunyai jiwa sosial dan rendah hati.

Satu Tanggapan to this post.

  1. sebagai orang yg mengaku tertutup, informasi pribadi di sini cukup banyak tuh, hwehehe…
    salam :)

Tanggapi posting ini