Mengunjungi Tempat Kost Mbak Evi

mbak eviPagi menjelang siang, sekitar pukul 10:10 wib aku telah sampai di rumah pak Dhe-ku yang berada di kawasan Ngingas, Klaten Utara. Kedatanganku ke rumah itu karena sehari sebelumnya aku diminta tolong oleh kakak sepupuku (mbak Evi) untuk mengantarkannya ke tempat kostnya yang ada di Yogyakarta. Sampai di rumah mbak Evi, aku langsung disambut oleh papanya yang tak lain adalah pak Dhe-ku yang sedang memanasi mesin mobil Honda Stream-nya. Beberapa saat menunggu di teras rumah, akhirnya keluarlah mbak Evi menemuiku dengan membawa tas ranselnya yang terlihat terisi penuh. Gara-gara motor mbak Evi sengaja ditinggal di kostnya beberapa hari lalu, maka untuk kembali ke kostnya ia memintaku untuk mengantarnya kembali ke kost di Yogyakarta. Sebagai informasi, mbak Evi adalah kakak sepupuku. Ia kini sedang sibuk mengerjakan skripsi/tugas akhirnya untuk meraih gelar kesarjaannya di jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia. Setelah berpamitan dengan pak dhe dan budhe-ku, sekaligus berpamitan dengan si kecil Ferdy (anak dari mbak Evi yang berumur 3,5 tahun), aku dan mbak Evi pun segera berangkat ke kota Yogyakarta.

Cuaca siang itu sangat cerah dan panas. Udara sedikit terasa hangat ketika menyentuh bagian-bagian kulitku yang tidak tertutup oleh baju dan jaket yang aku kenakan. Sebagai saudara sepupu, aku dan mbak Evi memang terkenal dekat. Kedekatan kami juga tak lain karena semasa sekolah dulu kami berada pada satu sekolah yakni SMA Muhammadiyah 1 Klaten, yang membedakan adalah mbak Evi adalah adik kelasku ketika itu. Lulus SMA, ternyata aku dan mbak Evi dipertemukan lagi di bangku perkuliahan. Aku mengambil jurusan Teknik Kimia dan setahun kemudian mbak Evi berkuliah mengambil jurusan Teknik Industri. Kami sama-sama kuliah di Universitas Islam Indonesia, sama-sama satu gedung fakultas juga. Di masa bangku SMA, aku juga sudah sering kali mengantarkan kakak sepupuku itu pulang sekolah berboncengan bareng. Namanya juga saudara, ya harus rukun khan?

Sekitar perjalanan 40 menit, kami pun telah sampai di daerah Seturan, Yogyakarta. Memang tempat kost mbak Evi berlokasi di daerah Seturan, sebuah daerah yang lokasinya tepat di belakang lingkungan kampus UPN “Veteran” Yogyakarta. Setelah sedikit menyusuri jalan dan berbelok-belok, akhirnya kami pun telah sampai di depan kost yang dituju. Sebuah pintu gerbang kost nampak sedikit terbuka, meski tidak terbuka secara lebar namun cukuplah untuk jalan masuk kendaraan Mio merahku. Ya karena mbak Evi memintaku untuk singgah sebentar di kostnya, jadi aku mau saja. Lagian ini juga menjadi kunjungan perdanaku di tempat kost mbak Evi. Mbak Evi pun segera berjalan ke arah tangga dan langsung naik ke lantai dua bergegas menuju ke kamarnya yang sudah beberapa hari ini ditinggalkannya. Sedangkan aku setelah memarkirkan motorku, masih berada di halaman kost yang tampak sangat luasnya. Karena aku membaca sebuah tulisan “Tamu Pria Dilarang Masuk ke Dalam Kamar”, maka aku putuskan untuk tidak mengikuti mbak Evi menuju ke lantai dua. Aku pun kemudian menuju ke sebuah pendopo yang berada di tengah-tengah halaman. Pendopo tersebut memang disediakan untuk menerima tamu.

Usai meletakkan tas ranselnya, mbak Evi pun kemudian turun dan menemuiku di pendopo. Situasi kost siang itu sangat sepi, tidak ada satu orang pun yang terlihat kecuali aku dan mbak Evi. Meski beberapa motor terlihat terparkir rapi, tapi situasi kost saat itu benar-benar sepi. Akhirnya, aku pun hanya mengobrol berdua dengan mbak Evi di pendopo. Tak berapa lama kemudian, datanglah dua orang mengendarai motor. Setelah memarkirkan motor, ternyata salah satu dari orang tersebut adalah Afri Enggar yang juga menjadi adik sepupu dari mbak Evi. Aku sendiri belum mengenalnya, karena dik Enggar adalah adik sepupu mbak Evi dari keluarga mamanya mbak Evi, sedangkan aku adalah adik sepupu dari keluarga papanya mbak Evi. Sebenarnya aku sedikit sekali kenal dengan dik Enggar, namun perkenalanku dengan dik Enggar hanya terjalin melalui Facebook. Kalaupun siang tadi kami bisa bertemu, itu menjadi pertemuanku yang pertama dengannya. Kebetulan dik Enggar juga menyewa kost di kostnya mbak Evi. Aku menjabat tangannya sebagai wujud perkenalan dengannya di dunia nyata (bukan di Facebook yang hanya terjadi di dunia maya). Dik Enggar dan satu orang temannya pun segera bergegas menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua dan meninggalkan aku dan mbak Evi berdua di dalam pendopo.

RUMAH KOST MILIK BIBIT WALUYO, GUBERNUR JAWA TENGAH
bibit waluyoRumah kost mbak Evi terlihat sangat besar dan luas. Terdiri dari 40 kamar tidur yang semuanya berfasilitas kamar mandi dalam. Tarif sewanya sebesar Rp 250.000,- per bulan, sudah termasuk biaya listrik. Dari jumlah kamar kost yang tersedia, semuanya sudah terisi oleh para penyewa yang terdiri dari sebagian besar para mahasiswi, tapi ada juga beberapa yang berprofesi sebagai pekerja. Menurut cerita dari mbak Evi, halaman kost yang luas tersebut biasanya akan menjadi sempit ketika sore hari telah tiba karena dipastikan beberapa mobil akan terparkir di halaman tersebut. Di dalam pendopo tamu, disediakan sebuah televisi berukuran besar sebagai sarana hiburan para tamu yang berkunjung di kost tersebut. Sebuah aquarium yang cukup besar juga menghiasai bagian dalam pendopo. Hanya ada satu ikan yang mengisi aquarium tersebut yakni seekor ikan arwana raksasa. Baru kali ini juga aku melihat ikan arwana yang sangat besar, benar-benar ikan arwana raksasa. Masih di dalam pendopo, juga terdapat sebuah foto besar yang terbingkai. Pada foto tersebut tergambar seorang bapak berkumis. Aku sendiri sangat mengenali siapa tokoh yang ada pada foto berbingkai tersebut. Aku mengenalinya sebagai bapak Bibit Waluyo. Ya, bapak Bibit Waluyo yang kini menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Lantas mengapa foto pak Bibit Waluyo terpasang di dalam pendopo? Itu karena pemilik kost tersebut adalah beliau bapak Bibit Waluyo. Aku sendiri awalnya juga tidak mempercayai kalau pemilik kost adalah bapak Bibit Waluyo, namun setelah mendengarkan cerita dari mbak Evi akhirnya aku pun mempercayainya. Huh.. Syukur dech kalau siang tadi aku bisa mengunjungi salah satu lahan usaha milik pak gubernur Jawa Tengah.

Banyak sekali yang aku obrolkan dengan mbak Evi, mulai dari bahasan perkuliahan, si kecil Ferdy, laptop hingga tentang rencana rekreasi hari minggu nanti. Setelah sekitar setengah jam berbincang di dalam pendopo, akhirnya aku memilih untuk bisa segera pamit pulang. Sebelum aku meninggalkan rumah kost itu, mbak Evi mengucapkan terima kasihnya kepadaku karena telah mengantarnya sampai di tempat kostnya. Pukul 12:35 wib aku pun telah meninggalkan rumah kost tersebut.

:: Kunjungan lain selama berada di kota Yogyakarta : “Amanda Brownies Kukus” di jalan P. Diponegoro.

~ oleh Adjiwae Winata di/pada 24 Juni 2009.

Satu Tanggapan to “Mengunjungi Tempat Kost Mbak Evi”

  1. waaahhh kost2an seturan i like it!! hehe.. LA nya Jogja.. ahahha..
    mas Adjiwae, salamin salam kenal ya buat mbak Evi Althafunisa.. :)
    oh ya info aja, di daerah karanggayam juga ada kost yg punya bapak Istar ( calon walikota Solo periode lalu ).
    emang sebuah peluang bisnis punya rumah kost2an di jogja.. baik yang super mewah ampe yg kecil pun pasti laku,,

Tinggalkan Balasan