Kapan Aku Menikah?

Baru saja aku pulang dari bersilaturahmi ke rumah sahabatku, Yulia. Ia adalah satu-satunya sahabat perempuan yang paling dekat dengan aku, maklum kami telah bersahabat sejak 12 tahun yang lalu dimulai dari bangku SMP. Yulia adalah orang yang tahu banyak tentang diriku, saking akrab dengannya maka aku tidak ragu memilih dia sebagai sahabat curhatku. Meski kini ia telah berkeluarga, namun hal itu tidaklah menjadi penghalang bagi kelangsungan persahabatanku dengannya. Yulia kini tengah merasakan kehamilan keduanya. Menurut rencana dalam hitungan hari ke depan, Yulia akan melahirkan anak kedua sekaligus memberikan adik bagi Keysha, anaknya yang pertama.

Berkunjung ke rumah Yulia sore tadi, malah menimbulkan keinginan pada diriku. Ya, keinginan! Aku ingin segera mempunyai istri dan anak! Melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Yulia pada saat menggendong putri semata wayangnya, malah membuatku iri kepadanya. Iri karena ia telah berkeluarga dan mempunyai anak, darah dagingnya sendiri. Sedangkan aku, sebenarnya masih betah menjomblo, namun karena melihat kemesraan Yulia kepada anaknya yang masih balita membuatku haru melihatnya dan ingin sepertinya menjadi seorang bapak dan menggendong sayang anak sendiri. Tapi kapan?

Banyak sekali teman maupun sahabat dekatku yang telah berkeluarga dan mempunyai anak. Selain Yulia, sudah ada Yoga (mempunyai istri dan 1 anak), Efi (suami dan 1 anak), Wahyu (suami dan 1 anak), Ari Khotol (istri mengandung) dan Maryanto (istri). Sedangkan Agus dan Wahyoex direncanakan pada tahun ini juga akan melepas masa lajangnya. Huhh… sebagian besar teman/sahabatku telah sibuk dengan urusan keluarga kecilnya. Kalau sudah begini, maka sangatlah jarang kami bisa berkumpul bareng seperti masa-masa dulu. Paling, ya setelah lebaran saja kami bisa berkumpul bersama-sama. Melihat teman/sahabat yang telah menikah sejujurnya juga turut memberikan rasa keinginan untuk segera menyusul, namun tidak semudah itulah aku merealisasikan keinginanku. Umurku masih 24 tahun, aku masih butuh proses kedewasaan dan kematangan bagi diriku. Selain hal tersebut, aku juga butuh pekerjaan yang bisa menjamin isi dompetku.

adjie + ritaTerkadang terbesit di pikiranku untuk segera menikah 4 tahun lagi, usia 28 tahun. Aku berpikiran bahwa di usiaku tersebut aku sudah menemukan kematangan pada diriku. Ya, 4 tahun lagi! Apalagi aku juga mesti menunggu terlebih dahulu agar kakakku lebih dulu menikah dari pada aku. Usia kakakku kini telah menginjak 26 tahun dan aku memprediksi maksimal usianya ke-28 tahun, ia sudah menikah dengan jodohnya. Namun pernah juga terbesit rencana di otakku, aku ingin menjalankan akad menikah dengan seorang perempuan pilihanku pada tanggal 11 November 2011 (11/11/11), nuansa angka sebelas! Tahun 2011, berarti sekitar 2 tahun lagi. Kenapa aku berpikir untuk menikah di tanggal tersebut? Tita! Itulah jawabannya. Aku mempunyai keinginan untuk bisa menikah dengan Tita, seorang perempuan sederhana yang sudah membuatku jatuh hati padanya sejak bangku SMP dulu (Yulia menjadi orang yang paling tahu tentang ceritaku dengan perempuan itu). Aku kembali memikirkan Tita setelah aku dipertemukan lagi dengannya setelah 6 tahun kami tidak pernah bertemu apalagi berkomunikasi. Pertemuan yang terjadi pada pertengahan tahun lalu itu, malah membangunkan rasa jatuh hatiku kepadanya yang sebelumnya telah lama tertidur. Apalagi, saat ini baik aku maupun Tita sedang sama-sama sendiri tanpa pacar. Berjalannya hari, hubungan komunikasiku dengan Tita kembali semakin membaik. Hal itu juga yang kemudian membuat aku semakin yakin bahwa Tita adalah jodohku nanti. Bismillah.. Dan, munculah angka 11/11/11 yang bagiku sungguh menjadi angka prestisius. Pada tanggal itu juga, Tita akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-26 tahun.

Huhh.. Menikah.. Semoga aku bisa menjalaninya dengan perempuan yang aku harapkan dan aku butuhkan. Sebelas sebelas sebelas… Aku merencanakan, Tuhan yang menentukan! Bismillah..

Tanggapi posting ini