Mas Sigit Pembimbingku dan Mas Himawan Atasanku

MAS SIGIT PEMBIMBINGKU
Hari ini aku berganti pembimbing dalam bekerja. Masuk kerja di shift kedua yakni jam 2 siang, aku mendapat tanggung jawab untuk membantu pekerjaan dari mas Sigit sekaligus belajar kepadanya. Sedangkan mas Budi yang selama dua hari kemarin membimbingku malah bebas bekerja tanpa harus membimbingku lagi. Aku memang harus membantu mas Sigit bekerja karena memang mas Sigit sedang tidak berada dalam kondisi terbaiknya karena beberapa hari kemarin mas Sigit mengalami sakit ambeyen yang baginya sendiri teramat menyakitkan. Usia mas Sigit jauh lebih tua dari usiaku, namun dari penampilannya masih terlihat muda dan nyambung ketika aku mengajaknya mengobrol. Mas Sigit adalah orang aseli Solo, sudah berkeluarga dan berputra satu. Pengabdiannya di Indofood sudah menginjak di tahun ke sepuluh.

Tak harus kerepotan mas Sigit dalam membimbingku bekerja karena aku sendiri dari kemarin sudah lebih banyak mengerti tentang ruang lingkup pekerjaan yang mesti dilakukan. Mas Sigit lebih banyak aku jadikan sebagai tempat bertanya akan beberapa hal yang aku sendiri merasa belum paham dengan pekerjaan yang aku lakukan. Kebetulan pada hari ini mas Sigit mendapat jatah bekerja untuk mengontrol dua line proses produksi mie instan yakni line 3 yang memproduksi Indomie Goreng Spesial dan line 5 yang memproduksi Sarimie Ayam Bawang.

Bersama mas Sigit aku lebih banyak bisa mengobrol banyak, termasuk suka dukanya bekerja sebagai Quality Control. Ada rencana dari mas Sigit untuk mengakhiri karirnya tahun ini di Indofood untuk bisa lebih berkonsentrasi di usahanya sendiri yakni membuka sebuah apotek. Mas Sigitlah orang yang benar-benar bisa menjadi teman bagiku selama aku berada di pabrik meski aku baru akrab dengannya hari ini saja.

MAS HIMAWAN ATASANKU
Ketika pergantian shift panjang sekitar jam tujuh malam, aku mendatangi ruangan section supervisor yakni ruangan kerja mas Himawan. Kedatanganku langsung disambutnya dengan pertanyaan, “Gimana sudah sampai mana?” Pertanyaannya tersebut hanya bisa aku balas dengan raut mukaku yang cemberut. Di dalam ruangan kecil tersebut, juga sudah ada lebih dulu mas Sigit yang sebelumnya membimbingku di ruangan proses produksi. Berada di dalam ruangan, aku langsung dipersilahkan duduk oleh mas Himawan. Di meja kerjanya, tersedia tumpukan berkas-berkas kertas putih hasil pekerjaannya. Dan juga secangkir kopi panas juga tersedia di atas meja.

Mas Himawan kini sudah berusia 34 tahun. Wajahnya masih tampak muda meski ini sudah memiliki satu putra. Orangnya tinggi, berbadan besar, tenang dan berpenampilan kalem sekali. Mas Himawan adalah aseli Solo, namun karena berjodoh dengan wanita Semarang maka kini setiap harinya tinggal di rumah istrinya di daerah Mangkang, Semarang, 5 menit perjalanan dari pabrik Indofood.

Maksud kedatanganku ke ruang kerja mas Himawan adalah untuk curhat tentang permasalahan kesehatanku yang kurang mendukung ketika aku sedang bekerja di ruangan proses produksi sekaligus untuk pertama kalinya memberitahukan usulan pengunduran diriku dari bekerja di Indofood. Pertama kali aku melemparkan wacana akan mengundurkan diri, aku lihat raut wajah mas Himawan nampak tetap tenang seperti sudah terbiasa menghadapi karyawan yang mengundurkan diri. Aku ceritakan semua keluhanku selama bekerja di Indofood. Sedang bagi mas Sigit, rencanaku mengundurkan diri tidaklah membuatnya terkaget karena sebelumnya aku sedah memberitahukan kepadanya kemungkinanku mengundurkan diri dari bekerja. Sekitar 20 menit mengobrol, akhirnya mas Himawan menyuruhku datang besok pagi untuk bersama-sama menghadap ke manager PDQC, ibu Herlina. Aku sedikit lega atas respon dari mas Himawan yang akan membantuku dalam rencana pengunduran diriku dari bekerja.

Setelah menyelesaikan obrolan, aku pun mesti kembali lagi ke ruang proses produksi untuk menghabiskan waktu kerjaku hingga jam sepuluh malam karena hari ini aku masuk kerja shift siang. Aku malas sekali jika harus berada di ruangan proses produksi, semangatku untuk bekerja di proses produksi sudah lenyap. Akhirnya aku lebih memilih duduk di gudang bahan baku, di masjid dan lama sekali duduk-duduk di bagian Mixer. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, aku begitu semangatnya untuk bisa segera pulang ke kost.

Tanggapi posting ini