Hari kedua berada di proses produksi mie instan, aku langsung mempraktekan membuat laporan untuk proses pembuatan mie instan merk Supermie Ayam Bawang di line sembilan. Awalnya tentu saja dimulai dari proses Screw untuk mengecek tepung terigu. Proses mengecek bahan baku selesai, kemudian berlanjut hingga ke proses berikutnya sampai dengan proses pendinginan mie instan. Proses yang aku pelajari sama dengan proses yang aku pelajari kemarin. Satu jam berada di ruang proses produksi, lagi-lagi sekujur tubuhku mengalir peluh keringat. Dadaku pun semakin sesak untuk bernafas karena udara dan bau yang berada di ruang proses produksi masih begitu asing bagi paru-paru yang memacu pernafasanku. Malah sempat terbesit di pikiranku untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini karena kesehatanku yang tidak mendukung selama berada di ruangan proses produksi.
Mas Budi memanggilku untuk dapat ikut bersamanya menuju ke ruang pengemasan mie instan. Hari ini aku akan belajar di ruang tersebut, mempelajari dan menjaga pengendalian mutu di bagian finishing produk. Mie instan yang keluar dari mesin pendingin, mesti diambil beberapa blok mie untuk dijadikan sample pengamatan. Mie-mie tersebut harus diamati kebersihannya, tatanan kelipatan mie dan pencemaran noda najis untuk penentuan tingkat kehalalan produk. Tidaklah sulit untuk mempelajari hal tersebut. Kemudian yang perlu diamati lagi adalah bungkusan bumbu dan minyak sebagai pelengkap mie instan. Sama halnya mie instan, bumbu dan minyak juga diperhatikan pencemaran noda najis, kebersihan plastik pembungkus dan isi dari bumbu atau minyak itu sendiri.
Nampak puluhan pekerja yang didominasi ibu-ibu dengan tangan cepatnya meletakkan bumbu dan minyak di atas blok mie yang berjalan cepat di depan posisi duduknya. Aku sendiri juga merasa takjub dengan cara kerja tangan-tangan cepat para pekerja yang sudah begitu lihai dan berpengalaman.
Mie yang sudah dilengkapi dengan bungkusan bumbu dan minyak, selanjutnya dilewatkan ke sebuah alat pengemas yang dinamakan dengan proses Wrapping. Pembungkus/pengemas mie instan sendiri dinamakan etiket. Yang wajib aku perhatikan pada proses pengemasan itu adalah tingkat kebocoran kemasan, daya rekat kemasan hingga kode tanggal yang tertera di etiket. Mie instan yang telah dikemas dengan etiket selanjutnya dilakukan proses pengkardusan atau disebut dengan proses Kartoning. Satu kardus mesti diisi dengan 40 bungkus mie instan. Yang perlu diperhatikan dalam proses Kartoning adalah mutu dari karton/kardus, sealing/plester perekat dan kode produksi yang tertera pada kardus. Setelah mengalami berbagai proses tersebut di atas, maka produk mie instan siap untuk didistribusikan kepada konsumen.
Pengalaman baru bekerja di bagian finishing produk malah menambah rumit pekerjaan yang mesti aku kerjakan. Berada di bagian proses produksi saja sudah harus banyak sekali yang mesti dicermati, apalagi ditambah dengan pekerjaan di bagian finishing produk yang semakin rumit. Apalagi semua pekerjaan tersebut masih harus dikerjakan dengan waktu yang begitu cepat, karena memang pekerjaan yang aku lakukan menjadikan waktu begitu sangat berharga.








