Bersama Crew Pasoepati Cyber, Wawancara Dengan Jawa Pos

Cuaca siang hari ini tadi begitu bersahabat. Meski terik sinar matahari tetap menyengat panas, namun intensitas suhu panasnya tidak sepanas hari-hari sebelumnya. Aku mesti menepati janjiku kepada Nacha yang kemarin mengundangku untuk datang ke pertemuan crew Pasoepati Cyber yang dipusatkan di pelataran stadion Manahan, Solo. Hmm.. Rasanya kangen juga, ketika aku harus mendengar atau sekedar mengucap sebuah tempat bernama Manahan Solo. Karena tempat itulah yang menjadi tempat paling history di kota Solo.

Perjalanan dari Klaten ke Solo memakan waktu kurang lebih satu jam. Aku dijanjikan datang dan sampai di Manahan pukul setengah satu, padahal sekitar jam dua belas siang aku masih berada di rumah bersiap diri. Itu berarti aku bisa sampai di Manahan sekitar pukul satu siang, terlambat setengah jam!

this-is-manahan-solo
Satu jam perjalanan…
Kerinduanku pun akhirnya terobati ketika aku telah sampai di kawasan Gelora Manahan, Solo. Senang dan bahagia aku rasakan disaat aku bisa kembali lagi ke tempat tersebut. Gelora Manahan Solo memang menjadi salah satu bagian ceritaku semasa menjadi suporter bola Pasoepati Solo dulu hingga sekarang. Tak bisa terhapus begitu saja kenanganku menjadi suporter bola di stadion Manahan Solo yang sudah mulai aku ukir sejak duduk di bangku kelas 3 SMP.

Aku masih kebingungan mencari dimana teman-teman crew Pasoepati Cyber berada. Nacha hanya mengabarkan bahwa aku mesti berkumpul di pintu selatan stadion Manahan. Padahal utara-selatan-timur-barat aja aku sedikit bingung. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan laju motorku dan mengelilingi kawasan Gelora Manahan sembari mataku mencari-cari sosok wajah Nacha yang sudah begitu aku hafal. Beberapa anak muda nampak terlihat asyik mengobrol di beberapa titik kawasan Gelora Manahan. Beberapa diantara anak-anak muda tersebut terlihat masih mengenakan seragam sekolahnya. Sedangkan beberapa anak muda lain tampak sedang asyik berpacaran di sebuah tempat yang teduh. Dari tadi mencari-cari tetap saja tidak aku temukan sosok Aby Nacha, seorang yang aku kenal 4 bulan terakhir ini. Sampai di samping dan belakang kawasan Gelora Manahan, masih saja pencarianku nihil tanpa hasil. Aku putuskan untuk berhenti sejenak di samping kantor Poltabes Surakarta. Sebuah pesan singkat SMS aku ketik dan aku kirimkan kepada Nacha untuk menanyakan keberadaannya. Setelah aku mengirimkan pesan tersebut, laju kendaraan pun segera aku lanjutkan. Sampai lagi aku di pintu gerbang utama Gelora Manahan, Solo. Taman air mancur menghias halaman depan pintu gerbang Gelora Manahan dengan begitu apiknya. Aku memilih untuk menepikan laju kendaraanku di dekat pintu gerbang besi bercat warna hijau. Ternyata pilihanku tepat, meski Nacha belum membalas SMS dariku, aku malah sudah menemukan keberadaannya. Langsung saja dari jauh aku melemparkan senyum kepada Nacha yang malah sudah berkumpul dengan Dodik dan Babe.

Aku memarkirkan Honda Supra X yang aku kendarai di samping motor Suzuki Shogun biru milik Nacha. Belum sempatt melepaskan helm pelindung kepalaku, segera saja aku menjabat tangan ketiga temanku (Nacha, Dodik dan Babe) yang aku kenal pertama kalinya melalui dunia internet. Hmm.. Kebahagiaanku kembali bertambah ketika aku bisa berkumpul lagi bersama teman-temanku dari Pasoepati Cyber. Biasanya kami hanya sering berkomunikasi melalui dunia maya saja, namun pada kesempatan siang tadi kami bisa bertatap muka kembali. Tak lama dari kedatanganku, satu teman lain menyusul datang. Kali ini yang datang adalah Dimas. Aku sendiri baru siang tadi bisa berkenalan dengannya. Di Pasoepati Cyber tidak pernah aku mengenal sosok pria yang mengendarai Kawasaki Ninja tersebut.

tshirt-pasoepatinetKepada Nacha, aku menagih pesananku berupa sebuah t-shirt dari merchandise website Pasoepati dot net. Aku ambil dua buah t-shirt dari dalam tas Nacha. Ada dua pilihan warna yang ditawarkan yakni merah dan hitam. Hmm sebenarnya aku ingin memiliki yang warna merah, tapi itu tidak bisa sebab warna tersebut sudah menjadi pesanan dari Dodik. Alhasil aku mesti menerima mendapatkan t-shirt warna hitam yang bergambar logo dari pasoepati dot net. Selembar uang biru pecahan lima puluh ribu aku serahkan kepada Nacha untuk pembayaran t-shirt yang aku pesan. Sebenarnya Nacha sudah berniat untuk memberikan uang kembalian sebesar 10.000 perak kepadaku, namun aku menolaknya karena aku ingin menyumbangkan uang itu untuk dana acara hari minggu nanti, yakni Tour Bantul. Setelah melunasi pesanan t-shirt, langsung saja aku membuka t-shirt putih yang aku kenakan dan menggantinya dengan t-shirt hitam yang baru saja aku dapatkan dari Nacha.

WAWANCARA DENGAN WARTAWAN JAWA POS RADAR SOLO
Orang yang kami tunggu akhirnya telah datang menghampiri kami. Dua orang datang dengan menaiki kendaraannya masing-masing. Orang tersebut adalah seorang wartawan Jawa Pos Radar Solo dan seorang lagi adalah fotografer. Ya, berkumpulnya teman-teman crew Pasoepati Cyber siang tadi adalah untuk melakukan wawancara dengan wartawan Radar Solo. Komunitas Pasoepati Cyber akan diberitakan dan diangkat profilnya di surat kabar harian Radar Solo. Momentum bagus itu pun juga akan digunakan oleh Pasoepati Cyber untuk mempromosikan website andalannya, www.pasoepati.net.

Dari pintu gerbang utama Gelora Manahan, kami pun segera berpindah tempat ke tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol. Dan dipilihlah sebuah tempat berupa gasebo kecil yang berada tak jauh dari taman air mancur halaman Gelora Manahan. Kami berlima masuk ke dalam gasebo kecil itu dan diikuti oleh mas Imam, wartawan yang akan mewawancarai kami. Sedang seorang teman mas Imam yang bertugas sebagai fotografer nampak bingung menempatkan dirinya untuk mendokumentasikan foto kami. Kami juga telah berseragam mengenakan t-shirt hitam kebanggaan kami bertulis Pasoepati.net, kecuali Babe yang mengenakan t-shirt warna merah bertuliskan Save Our Persis. Sekedar informasi saja, t-shirt Pasoepati.net maupun t-shirt Save Our Persis adalah sama-sama merchandise aseli yang dikeluarkan oleh komunitas Pasoepati Cyber sebagai bentuk dukungan kepada tim sepak bola Persis Solo.

Mas Imam memulai wawancaranya dengan crew Pasoepati Cyber. Nacha bertindak sebagai juru bicara dari Pasoepati Cyber karena memang dialah ketua dari komunitas suporter bola ini. Sedangkan aku beserta tiga temanku yang lain hanya bisa menambahi dan menguatkan dengan pernyataan-pernyataan yang sebisa kami ungkapkan. Hal pertama yang ditanyakan oleh mas Imam adalah proses awal terciptanya website www.pasoepati.net yang pada akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas Pasoepati Cyber. Tak sulit bagi Nacha untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena memang Nacha orang yang berada di balik terciptanya website Pasoepati tersebut. Dengan begitu Nacha mengetahui betul seluk beluk terciptanya website itu dan berdirinya komunitas Pasoepati Cyber. Pertanyaan berikutnya yang diajukan adalah tentang jumlah keanggotaan dan struktur organisasi dari Pasoepati Cyber. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berturut-turut ditanyakan diantara keaktifan anggota Pasoepati Cyber, sumbangsih Pasoepati Cyber terhadap tim Persis Solo hingga rencana atau harapan Pasoepati Cyber di masa mendatang. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh mas Imam, namun kesemua pertanyaan tersebut tidaklah dapat saya tuliskan di blog ini. (Baca saja hasil wawancaranya di artikel besok).

Hampir satu jam berlalu, mas Imam pun juga telah menutup buku kecilnya yang dari tadi dijadikan sebagai tempat menulis hasil wawancara. Usai melakukan wawancara, mas Imam malah mengajak kami berdiskusi tentang masa depan tim sepak bola Persis Solo. Sebagai seorang wartawan olah raga, mas Imam lebih banyak tahu tentang kondisi Persis Solo saat ini yang sedang berantakan diabaikan oleh tim manajemen. Mas Imam juga banyak memberikan masukan kepada kami tentang prospek masa depan dari komunitas Pasoepati Cyber yang kini telah menginjakkan usianya yang ke satu tahun. Yang cukup melegakan dan membahagiakan kami adalah ketika mas Imam malah berkenan menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi kontributor berita untuk situs website Pasoepati.net yang kami kelola.

Obrolan jelang sore itu pun mesti diakhiri karena mas Imam masih ada pekerjaan lain yang menunggunya. Mas Imam berpamitan kepada kami berlima. Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaannya dari Radar Solo untuk mengangkat berita seputar komunitas Pasoepati Cyber. Sebagai seorang wartawan, mas Imam juga balik mengucapkan terima kasih kepada kami atas tersedianya waktu yang telah diberikan untuk melakukan wawancara.

NGABUBURIT SEJENAK DI AREA GELORA MANAHAN SOLO
Selesainya acara wawancara tidak lantas membuatku segera bergegas pulang. Aku ingin menikmati sebentar suasana kawasan Gelora Manahan, Solo sembari menghabiskan waktu sore tadi (baca : ngabuburit) karena hari ini aku juga menjalankan puasa hari Senin. Hanya Dimas dan Babe yang langsung berpamitan pulang karena masih ada lanjutan aktifitas masing-masingnya. Di dalam gasebo kecil itu pun hanya menyisakan aku, Nacha dan Dodik. Beberapa menit setelah kepulangan Dimas dan Babe, datanglah seorang teman kami yakni Atha Dewi satu-satunya srikandi Pasoepati yang selalu aktif di komunitas Pasoepati Cyber. Selanjutnya kami berempat mengobrol di gasebo berukuran kecil tersebut sembari menikmati lingkungan Gelora Manahan yang mulai ramai dengan aktifitas sore di sekitar stadion utama Manahan.

Singkat cerita…
Sekitar satu jam kami berempat berbincang, hari pun mulai tampak sore. Saatnya kami untuk bergegas pulang ke rumah masing-masing. Selanjutnya kami saling berpamitan untuk dapat segera memisahkan diri. Kami berjanji akan bertemu lagi pada hari minggu nanti dalam agenda acara tour Bantul, mendukung tim Persis Solo berlaga melawan tim Persiba Bantul. Aku sendiri pulang menuju Klaten berbarengan dengan Nacha karena memang Nacha juga berasal dari Klaten, sekota dengan aku.

~ oleh Adjiwae Winata di/pada 6 April 2009.

Tinggalkan Balasan