Hari Raya Nyepi Yang Begitu Sepi

Hari ini, Kamis 26 Maret 2009 bertepatan dengan “tanggal merah” memperingati Hari Raya Nyepi. Meski menjadi hari libur nasional, namun hal itu tidaklah berpengaruh di kehidupanku saat ini. Mau hari Senin, Selasa atau hari Minggu sekalipun, saat ini tidaklah mengubah aktifitasku sehari-hari. Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, pagi sampai sore tentu saja harus tetap berada di toko untuk menjalankan bisnis toko besi.

Situasi toko yang masih sepi tetap saja aku gunakan kesempatan itu untuk larut di internet menggunakan ponselku. Facebook.com masih menjadi situs terfavoriteku saat ini. Terlalu lama aku berleha-leha dengan internet, hingga membuat kakakku menegurku untuk segera menghentikan aktifitas internetku.

Menjelang siang hari, Bu Dhe’ ku datang sendirian ke rumahku. Sedang kedua orang tua dan adikku telah datang terlebih dahulu dari rumah Srago. Kedatangan Bu Dhe’ku ke rumah adalah untuk membantu ibuku yang tengah sibuk mempersiapkan segala makanan dan memasak bakso yang akan dipergunakan nanti malam untuk acara 1000 hari meninggalnya nenekku. Aku yang hari ini berpuasa hari Kamis, haruslah ikhlas karena tidak dapat mendekat ke dapur yang memungkinkan akan membangkitkan nafsu makanku. Tak lama untuk menyelesaikan masakan bakso. Setelah adzan dzuhur berkumandang, prosesi masak bakso di dapur pun selesai. Seketika itu juga, bu Dhe’ ku langsung berpamitan karena harus menjemput cucu pertamanya, si Ferdy.

Selang tidak lama dari kepulangan bu Dhe’, malah bergantian datang tanteku dari Yogya beserta putri semata wayang, Andina Ken Soraya. Sama halnya dengan kedatangan bu Dhe’ku tadi, tanteku juga datang ke rumah untuk ikut bantu-bantu memasak. Tapi kali ini hanya membuat sambal bakso dan mempersiapkan makanan yang lain. Aktifitas di dapur rumah tidak terlalu menjadi perhatian serius bagiku. Karena di dalam toko besi aku pun telah menyibukan diri dengan pekerjaanku menimbang dan membungkus semen eceran. Sebenarnya malas juga harus mengerjakan menimbang dan membungkus semen eceran, selain memakan waktu lama juga kotornya itu yang membuatku sedikit malas mengerjakannya. Tapi, aku mesti ikhlas dan legowo melaksanakannya karena itu memang menjadi tanggung jawabnya. Dua jam berlalu, aku sudah menghabiskan 3 zak semen yang aku timbang menjadi eceren 1 kg, 3 kg dan 5 kg.

Sore hari aktifitas mulai disibukan dengan persiapan digelarnya acara 1000 hari meninggalnya nenekku. Makan-makanan yang telah siap langsung segera dibawa ke rumah nenekku yang beralamat di kawasan Mlinjon, Klaten.

Pada malam harinya, dengan terpaksa aku tidak dapat ikut ke rumah nenekku. Acara peringatan 1000 hari meninggalnya nenekku cukup diwakili kedua orang tua dan kakakku. Sedang aku sendiri mesti menemani adikku di rumah Srago, karena adikku harus belajar malam ini sebagai persiapan menghadapi uji coba ujian besok pagi. Kesempatan berada di rumah tidak aku sia-siakan untuk menonton sinetron kesayanganku Cinta Fitri yang tayang di layang kaca SCTV. Hingga pada akhirnya, jelang jam 10 malam kedua orang tuaku telah pulang ke rumah Srago karena acara di rumah nenek telah selesai.

Sekitar pukul 22:20 wib, aku pun segera pulang ke rumah Krapyak. Sebelum sampai di rumah, terlebih dahulu aku mesti mengisi BBM Mio merahku di sebuah SPBU. Tangki BBM jenis premium itu harus aku isi penuh karena besok pagi motor Mio merah itu akan aku gunakan untuk perjalanan ke kota Semarang.

Di dalam rumah ternyata sudah terjadi obrolan seru di ruang tamu. Kakak, tante dan adik sepupuku saling berbincang dengan suguhan makanan yang dibawa dari rumah nenekku. Malam ini, tanteku dan putrinya, Andina Ken Soraya akan bermalam di rumahku karena jika harus kembali pulang ke kota Yogya rasanya tidak mungkin terlaksana karena waktu yang telah larut malam.

Aku pun segera ikut nimbrung di ruang tamu untuk mengobrol bersama tante dan adik sepupuku. Sebenarnya aku malas, karena aku ingin segera bisa tidur terlelap untuk mempersiapkan kondisi badanku agar tetap bugar keesokan paginya. Tapi mau bagaimana lagi, berbasa-basilah aku ikut mengobrol malam ini. Hingga pada akhirnya, dengan terpaksa aku pun meninggalkan obrolan malam itu ketika waktu mulai beranjak tengah malam. Aku menuju ke kamar tidurku yang berada di lantai dua rumahku untuk segera dapat tertidur malam. Besok pagi, badanku mesti dalam keadaan sehat dan bugar dikarenakan pada siang harinya aku harus melaksanakan tes kesehatan di laboratorium poliklinik PT. Indofood Sukses Makmur, Semarang.

~ oleh Adjiwae Winata di/pada 26 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan